Identitas Nasional yang Kini Hilang oleh Perkembangan Zaman

Setiap negara negara pastinya memiliki idetintas negaranya masing-masing. Tentu nya negara kita Indonesia juga memiliki identitas nasional yang menjadi ciri dari negara kita. Bicara tentang identitas nasional mari kita lihat dahulu pengertian identitas nasional itu sendiri. Istilah identitas nasional secara terminologis adalah suatu ciri yang dimiliki oleh suatu bangsa yang secara filosofis membedakan bangsa tersebut dengan bangsa lain.  Hal-hal itulah menjadi objek dari identitas nasional. Menurut Koenta Wibisono (2005) pengertian identitas nasional pada hakikatnya adalah “manifestasi nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang dalam aspek kehidupan suatu bangsa(nasional) dengan ciri-ciri khas, dan dengan yang khas tadi suatu bangsa berbeda dengan bangsa lain dalam kehidupannya”. Berdasarkan pengertian yang telah di jabarkan, maka setiap bangsa di dunia ini akan memiliki identitas masing-masing sesuai dengan keunikan, sifat, ciri-ciri karakter dari bangsa tersebut.

Karakter atau ciri bangsa tersebut timbul oleh kemajemukan masyarakat yang ada di suatu bangsa tersebut. Terbangunnya suatu karakter yang mempunyai ciri tersendiri lahir atas kesepakatan bersama meliputi atas kepentingan bangsa-bangsa dan negara. Seperti halnya Indonesia yang mempunyai ciri atau lambang negara garuda dan pancasila sebagai dasar atau falsafah negara kita. Maka identitas nasional suatu bangsa tidak dapat dipisahkan dengan jati diri suatu bangsa atau yang lebih popular disebut sebagai kepribadian suatu bangsa.[1]

Dewasa ini, keprbadian bangsa kita sudah mulai hampir menghilang. Salah satu penyebabnya yaitu pengaruh budaya luar yang malah banyak membawa dampak negatif terhadap identitas nasional bangsa kita. Terutama para generasi muda yang sangat mudah terpengaruh oleh budaya yang datang dari luar

Hal ini berkaitan dengan kata yang sudah tak asing lagi di telinga kita, yaitu kata “Globalisasi”. Benar bukan? Globalisasi telah menciptakan pengaruh buruk bagi Indonesia, itu karena masyarakat Indonesia tidak menyaring kuatnya arus globalisasi dunia. Sebelumnya membahas topic dan konflik yang terjadi, saya akan bercerita sedikit tentang perkembangan zaman Indonesia yang terjadi saat ini.

Semakin hari perubahan yang terjadi di dunia ini semakin pesat. Perubahan tersebut ditandai dengan canggihnya alat komunikasi, transportasi dll. Perubahan itu di latar belakangi oleh pikiran manusia yang tidak terbatas. Manusia selalu ingin menciptakan inovasi-inovasi baru yang nantinya akan mempermudah kehidupan manusia dimasa mendatang. Kepraktisan tersebut berdampak besar bagi masyarakat dunia termasuk Indonesia. Perubahan tersebut bisa berdampak positif maupun negatif tetapi kebanyakan dari pesatnya perubahan tersebut menyebabkan dampak negatif atau bisa kita artikan sebagai perubahan yang tidak seimbang.

Pada jaman dahulu kepraktisan tersebut khususnya di Indonesia sepertinya amat mustahil jika dapat di realisasikan pada jaman sekarang ini. Pada jaman dahulu masyarakat Indonesia masih sangat memegang teguh kepercayaan mereka masing-masing. Kepercayaan tersebut berupa kepercayaan terhadap benda-benda yang memiliki kekuatan. Kepercayaan yang ada di wilayah mereka jika ditinggalkan akan mendapatkan musibah dll. Hal tersebut yang membuat masyarakat Indonesia pada jaman dahulu sangat sulit untuk maju.

Perubahan tersebut pada jaman dahulu tidak hanya menyebabkan dampak negatif saja tetapi juga menimbulkan dampak positif bagi masyarakat Indonesia. Misalnya, menambah pengetahuan masyarakat dalam bidang bercocok tanam, adanya budaya baru yang masuk, tambahan pengetahuan tentang bahasa dll. Dari dampak tersebut sedikit demi sedikit masyarakat Indonesia pemikirannya mulai bisa berkembang meskipun sistem kepercayaan berupa animisme dan dinamisme tersebut tidak dapat ditinggalkan sepenuhnya tetapi setidaknya mereka mampu untuk merubah kehidupan mereka menjadi lebih baik lagi dimasa yang akan datang.

Dibandingkan dengan jaman sekarang semuanya tampak berubah secara drastis. Perubahan tersebut dikarenakan adanya dorongan dari manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dari sini dapat kita ketahui bahwa pesatnya perkembangan jaman pengaruhnya sangat tinggi bagi kehidupan manusia. Pesatnya perkembangan termasuk dalam hal perkembangan teknologi sekarang ini bisa memengaruhi pemikiran manusia karena semua kegiatan manusia tidak dapat terpisahkan dari teknologi mulai dari kegiatan ekonomi, bisnis dan lain-lain.

Zaman sekarang tidak hanya teknologi yang berubah menjadi modern, bahkan budaya dan bahasa juga. Contohnya maraknya penggunakan aplikasi chatting dengan penggunaan bahasa gaul yang terkesan kasar dan tidak menunjukkan identitas bahasa Indonesia.

Para remaja bahkan orang tua pun mengikuti lajunya arus perkembangan zaman ini, sehingga sudah sangat sulit untuk menemukan identitas nasional pada masyarakat Indonesia. Sebagai contoh kasus perkembangan zaman yang menghilangkan identitas bangsa adalah seorang remaja perempuan yang merupakan penggemar artis Korea, bahkan tidak segan-segan ia mempraktekkan budaya Korea untuk kehidupan sehari-hari, bergaya ala korea, berbahasa korea, bahkan ada yang berkeinginan untuk tinggal di Negara Korea.

Perkembangan alat komunikasi yang meningkat dengan adanya aplikasi Chattingan seperti facebook, line, whatsapp, wechat, messenger, dan lain sebagainya. Sebagaimana yang kita ketahui ini adalah hal positif karena memudahkan kita untuk berkomunikasi dengan sesama manusia. Tetapi hal ini justru bisa menghilangkan identitas nasional bangsa Indonesia karena dengan adanya aplikasi ini, kita bisa terhubung ke ngeara asing yang menyebabkan kita terbiasa dan mengikuti budaya asing, sehingga negara Indonesia kehilangan cita budaya daerahnya sendiri karena masyarakatnya lebih memilih mengikuti perkembangan budaya asing.

Menurut Berger dalam The Capitalis Revolution, era globalisasi dewasa ini ideologi kapitalislah yang akan menguasai dunia. Kapitalisme telah mengubah masyarakat satu persatu dan menjadi sistem internasional yang menentukan nasib ekonomi sebagai besar bangsa-bangsa di dunia, dan secara tidak langsung juga nasib, sosial, politik dan kebudayaan. Perubahan global ini membawa perubahan suatu ideologi, yaitu dari ideologi partikular ke arah ideologi universal dan dalam kondisi seperti ini kapitalimelah yang akan menguasainya.[2]

Menurut analisis saya, jika masyarakat Indonesia terutama generasi muda selalu mengikuti perkembangan zaman, maka identitas nasional akan terkikis dan lama kelamaan akan memudar. Budaya Indonesia yang kini sudah tak tampak pada kehidupan sehari-hari karena kurangnya kesadaran diri terhadap pentingnya identitas bangsa, jika identitas bangsa mulai hilang. Lantas apa yang membedakan Negara Indonesia dengan Negara lainnya?

Namun salah satu contoh dari ciri bangsa Indonesia yang kini masih melekat pada masyarakat bangsa Indonesia adalah sikap (attitude) dari masyarakat Indonesia yang terkenal akan keramahan dan sopan santunnya serta rasa hormat yang tinggi pada semua pendatang yang masuk ke dalam Indonesia. Hal tersebut tercermin dalam sikap bangsa Indonesia yang mudah menerima kehadiran orang lain baik itu pada masyarakat dalam negeri maupun turis manca negara. Mereka memperlakukan para pendatang dengan segala bentuk keramahan. Hal tersebut menyebabkan warga Negara Indonesia dikenal di dunia sebagai negara yang sopan santun dan ramah tamah.

Sedangkan identitas bangsa terpenting telah memudar yaitu budaya, adat dan bahasa. Karena kurangnya peduli terhadap budaya sendiri, maka terjadilah hal kasus pengklaiman budaya Indonesia yang dilakukan oleh bangsa lain. Sebagai contohnya kasus pengklaiman yang pernah terjadi yaitu Negara Malaysia yang mengklaim kebudayaan dari Indonesia berupa reog, batik, dan angklung sebagai kebudayaan mereka. Seharusnya masyarakat Indonesia lebih selektif dalam menghadapi arus globalisasi yang kian melaju dan banyak dampak negatifnya.

 

[1] http://muhammad-ikhsan14.blogspot.co.id/2011/12/hilangnya-identitas-nasional-akibat.html

[2] https://www.kompasiana.com/adityaagus/hilangnya-identitas-suatu-negara_563f176d1eafbd66078cf327

Disintegrasi Bangsa Kini Mulai Berkembang

Disintegrasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah suatu keadaan tidak bersatu padu atau keadaan terpecah belah; hilangnya keutuhan atau persatuan; perpecahan. Disintegrasi secara harfiah difahami sebagai perpecahan suatu bangsa menjadi bagian-bagian yang saling terpisah

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang berbudaya dan memiliki keanekaragaman suku, agama, ras, budaya, dan etnis, yang apabila disalahgunakan berpotensi menjadi pemicu masalah disintegrasi nasional. Disintegrasi bermakna hilangnya keutuhan atau persatuan.

Bhinneka tunggal Ika merupakan istilah yang menggambarkan kondisi bangsa Indonesia yang berbeda-beda tetapi tetap satu. Semangat persatuan dan kesatuan bangsa secara menyeluruh dan utuh ini lah kunci melemahkan potensi konflik.

Indonesia saat ini sebagaimana sering digambarkan di media massa sedang dalam kondisi krisis persatuan dan kesatuan dimana beberapa golongan dan individu lebih mementingkan kepentingan pribadi dan kelompoknya daripada kepentingan umum maupun kepentingan masyarakat banyak sehingga dapat berakibat menyebabkan timbulnya disintegrasi bangsa.

Disintegrasi terjadi karena beberapa hal, yaitu adanya perbedaan pandangan mengenai tujuan yang ingin dicapai bersama. Contohnya, masyarakat Indonesia mempunyai cita-cita terbentuknya masyarakat adil dan makmur sebagaimana tercantum pada UUD 1945. Jika ada kota ataupun provinsi yang mendirikan negara sendiri maka sudah pasti akan terjadi disintegrasi dalam sosial. Norma yang ada pada masyarakat mulai tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Contohnya permasalahan hukun di Indonesia, hukum ditegakkan dengan tidak adil. Orang korupsi dihukum sebentar karena hukum dengan uang dapat dibayar, tetapi orang yang hanya mencuri sebuah singkong dihukum berat. Hal seperti ini yang menyebabkan disintegrasi dalam social.

Terjadinya pertentangan antar norma yang ada didalam masyarakat. Hal seperti ini biasanya terjadi hanya di tingkat RT ataupun RW. Misalkan dalam hal minuman keras, ada beberapa orang yang menganggap minuman keras itu tidak salah, tetapi ada masyarakat lain yang menganggap minuman keras itu bertentangan dengan normal agama. Maka hal itu akan mengakibatkan kekacauan sosial, dalam hal minuman keras dibutuhkan keputusan hukum apakah salah atau tidak.

Adanya ketidakonsekuensian pemberian sanksi kepada pelanggar norma. Hal ini berhubungan dengan penyebab lainnya seperti hukuman untuk para koruptor dan rakyat kecil yang tidak adil menyebabkan disintegrasi dalam sosial. Penyebab yang terakhir yaitu tindakan warga yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku. Keadaan ini merupakan keadaan paling parah, karena jika warga sudah tidak mematuhi norma yang berlaku maka kekacauan tidak akan bisa dihindari. Karena dalam kehidupan sudah semestinya ada norma yang berlaku, nilai dan norma menjamin kelangsungan hidup lantas jika tidak dipatuhi bagaimana kehidupan kita nantinya?

Beberapa contoh kasus disintegrasi yang terjadi di Indonesia adalah [1]

Organisasi Papua Merdeka (disingkat OPM) adalah organisasi yang didirikan pada tahun 1965 untuk mengakhiri pemerintahan provinsi Papua dan Papua Barat yang saat ini di Indonesia, yang sebelumnya dikenal sebagai Irian Jaya,[1] dan untuk memisahkan diri dari Indonesia.

Tragedi ini dimulai dari tahun 1963 sampai sekarang. Di pimpin oleh Beny Wenda. Organisasi ini melakukan pemberontakan dengan motif untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia(NKRI).

Gerakan ini dilarang di Indonesia, dan memicu untuk terjadinya kemerdekaan bagi provinsi tersebut yang berakibat tuduhan pengkhianatan.[2] Sejak awal OPM telah menempuh jalur dialog diplomatik, melakukan upacara pengibaran bendera Bintang Kejora, dan dilakukan aksi militan sebagai bagian dari konflik Papua. Pendukung secara rutin menampilkan bendera Bintang Kejora dan simbol lain dari kesatuan Papua, seperti lagu kebangsaan “Hai Tanahku Papua” dan lambang negara, yang telah diadopsi pada periode 1961 sampai pemerintahan Indonesia dimulai pada Mei 1963 di bawah Perjanjian New York.

Organisasi ini didukung oleh Vanuatu, Libya(1969-2011) dan Gerakan Aceh Merdeka(1976-2005).

Yang kedua adalah Gerakan Fajar Nusantara atau yang disebut GAFATAR. Gerakan ini didirikan pada 21 Januari 2012 di Kemayoran, Jakarta. Ahmad Musaddeq/Moshaddeq/Musadek alias Abdussalam adalah pendiri Al Qiyadah Al Islamiyah atau KOMAR (Komunitas Millah Abraham) yang sekarang menjadi GAFATAR.

Gerakan ini mengajarkan tentang mencampuradukkan ajaran Al-Quran, Bible, dan Taurat, dia mengaku mendapat wahyu tuhan, menyatakan diri sebagai nabi dan mengaku rasul pengganti Nabi Muhammad SAW, tidak mewajibkan shalat, puasa, zakat, syahadat baru (Asyhadu alla ilaha illla Allah wa asyhadu anna Masih al Mau’ud Rasul Allah).

Dalam dasar pemikiran GAFATAR dituliskan bahwa bangsa Indonesia disebut belum merdeka seutuhnya dari sistem penjajahan neokolonialis dan neoimperialis. Dari sini sudah jelas bahwa dalam visi, misi, tujuan dan program kerja organisasi kemasyarakatan ini sama sekali tak menyebutkan nama satu agama.

Ketua Umum Gafatar, Mahful M. Manurung dalam pidato pembukaan Rakernas III di Gedung Balai Sudirman, Kamis (26/2/2015) menyatakan organisasi ini tak akan berevolusi menjadi organisasi keagamaan. “Masalah keagamaan bukanlah menjadi ranah kerja GAFATAR. Urusan agama kita serahkan kepada ahlinya dan pribadi masing-masing,” tegasnya.

Seiring perjalanan waktu, gerakan ini mulai dihindari oleh masyarakat karena dianggap organisasi sesat yang diantara ajarannya adalah mencampuradukkan agama sebagai landasan gerakan.

Kemudian pada 20 November 2012 Direktorat Jenderal Kesbangpol Kementerian Dalam Negeri Nomor 220/3657/D/III/2012 melarang pendirian Gafatar. Namun hingga April 2015, organisasi ini masih melaksanakan berbagai kegiatan.

Menurut analisis saya, disintegrasi terjadi karena kurang adanya rasa nasionalisme yang tinggi, kurangnya rasa toleransi sesama bangsa, campur tangan pihak asing dalam masalah bangsa.

Selain faktor kemajemukan budaya, penyebab disintegrasi bangsa Indonesia juga terpicu oleh sentralisasi pembangunan yang selama ini lebih terfokus di pulau Jawa, sehingga menyebabkan kesenjangan dan kecemburuan dari daerah lain, sehingga timbul keinginan untuk memisahkan diri dari NKRI.

Negara Indonesia yang berbentuk kepulauan yang dipisahkan oleh lautan, sehingga akan memunculkan sikap ingin menguasai daerah sendiri dan tidak mau diatur. Kemudian keberagaman suku, ras, agama bisa memicu disintegrasi bangsa, karena setiap golongan pasti mempunyai budaya, watak, dan adat yang berbeda dan yang pasti mereka masing-masing mempunyai ego kesukuan ( Chauvinisme ) sehingga akan mudah konflik dengan suku-suku yang lain. Faktor disintegrasi yang lain ialah rasa ketidakadilan yang memicu pemberontakan kepada yang berbuat tidak adil.

Disintegarsi bisa dicegah dengan membangun kesadaran akan pentingnya rasa nasionalisme, membuat keadilan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Jika disintegrasi terjadi secara terus menerus, maaka bangsa Indonesia akan terjadi perpecahan yang memudahkan pengaruh negative dari luar masuk dan menjadi factor perpecahan yang semakin parah. Seharusnya masyarakat Indonesia lebih peduli terhadap sesame dan membangkitkan jiwa Nasionalisme agar disitegrasi tidak terjadi

 

[1] http://kresnamaulana12.blogspot.co.id/2017/

Undang-Undang Saat ini Tak Lagi Mencerminkan Nilai-Nilai dan Norma Konstitusi

Di Indonesia, istilah negara hukum secara konstitusional telah disebutkan pada UUD 1945. Penggunaan istila negara hukum mempunyai perbedaan antara sesudah dilakukan amandemen dan sebelum dilakukan amandemen. Sebelum amandemen UUD 1945, yang berbunyi bahwa ” Indonesia adalah negara yang berdasar atas negara hukum”. Sedangkan setelah dilakukannya amandemen UUD 1945 yaitu “Negara Indonesia adalah negara hukum.” istilah negara tersebut dimuat dalam UUD 1945 pasal 1 ayat (3).

Meskipun ada perbedaan UUD 1945 sebelum dan sesudah amandemen pada hakikatnya keduanya mempunyai tujuan yang sama yaitu menjadikan Negara Indonesia sebagai negara hukum.

Indonesia sebagai negara hukum, memliki karakteristik mandiri yang berarti kemandirian tersebut terlihat dari penerapan konsep atau pola negara hukum yang dianutnya. Konsep yang dianut oleh negara kita disesuaikan dengan kondisi yang ada di Indonesia yaitu Pancasila.

NKRI sebagai negara hukum yang berdasarkan pada pancasila, pasti mempunyai maksud dan tujuan tertentu yaitu bertujuan untuk mewujudkan tata kehidupan negara kita sebuah negara yang aman, tentram, aman sejahtera, dan tertib dimana kedudukan hukum setiap warga negaranya dijamin sehingga bisa tercapainya sebuah keserasian, keseimbangan dan keselarasan antara kepentingan perorangan maupun kepentingan kelompok (masyarkat).

Konsep negara hukum pancasila artinya suatu sistem hukum yang didirikan berdasarkan asas-asas dan kaidah atau norma-norma yang terkandung/tercermin dari nilai yang ada dalam pancasila sebagai dasar kehidupan bermasyarakat.

Negara berdasarkan atas hukum harus didasarkan hukum yang baik dan adil tanpa membeda-bedakan. Hukum yang baik adalah hukum yang demokratis, yaitu didasarkan pada kehendak rakyat sesuai dengan kesadaran hukum rakyat. Sedangkan yang dimaksud dengan hukum yang adil adalah hukum yang memenuhi maksud dan tujuan hukum yaitu keadilan. Hukum yang baik dan adil perlu untuk dijunjung tinggi karena bertujuan untuk melegitimasi kepentingan tertentu, baik kepentingan penguasa, rakyat maupun kelompok. Oleh karena itu suatu negara yang menyatakan bahwa negaranya merupakan negara hukum. Negara hukum menurut UUD 1945 adalah negara yang berdasarkan pada kedaulatan hukum. Negara itu sendiri merupakan subjek hukum, dalam arti rechstaat (Indonesia ialah negara yang berdasar atas hukum)

Tetapi yang terjadi pada hukum Indonesia adalah hukum yang “Tumpul ke atas dan tajam ke bawah” maksud dari istilah tersebut adalah salah satu sindiran nyata bahwa keadilan di negeri ini lebih tajam menghukum masyarakat kelas menengah. Coba bandingkan dengan para koruptor yang notabene adalah para pejabat kelas ekonomi ke atas, mulai dari tingkat anggota DPRD hingga para mantan menteri juga terjerat dengan kasus korupsi.

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menemui perkara-perkara kecil tapi dianggap besar dan terus dipermasalahkan yang sebenarnya bisa di selesaikan dengan sikap kekeluargaan, namun berlangsung dengan persidangan yang tidak masuk akal. Sementara, di luar masih banyak koruptor yang berkeliaran dengan senang dan santainya menikmati uang rakyat yang acap kali disalah gunakan untuk hal yang bersifat pribadi, bukannya untuk menyejahterakan rakyat, namun malah digunakan untuk hal-hal yang membuat seseorang itu menderita.

Penegakan hukum berbagai kasus di negeri ini acap kali mengingkari rasa keadilan yang menyengsarakan masyarakat, diskriminasi hukum kerap dipertontonkan aparat penegak hukum. Yang lebih ironi ketika anak seorang pejabat tinggi menjadi tersangka kasus kecelakaan yang menewaskan 2 orang tidak ditahan penyidik. Sejatinya, kasus pendekatan ini bisa di selesaikan dengan kearifan lokal yang baik atau pendekatan sosial kultural kekeluargaan.

Di Indonesia menegak kan hukum untuk para pejabat seperti mencabut duri dari jari, sulit sekali. Hukum di Indonesia bisa di bayar, hukum di Indonesia bisa dibeli. Jika lambang hukum adalah timbangan, maka lambang yang pantas untuk hukum di Indonesia adalah timbangan yang berat untuk orang miskin dan timbangan yang ringan untuk orang kaya atau untuk para pejabat

Beberapa kasus huku yang lebih memberatkan kaum rakyat biasa, adalah sebagai berikut :[1]

  1. Seorang wanita berusia lanjut bernama Meri, asal Tegal, Jawa Tengah harus berurusan dengan hukum karena kedapatan menjual petasan di rumahnya sendiri. Nenek Meri sendiri tidak mengetahui bahwa menjual petasan tersebut dilarang karena sejak pemerintahan Presiden Soekarno, dia sudah menjualnya dan baru kali ini terjerat hukum. Dikarenakan hal ini, pihak Pengadilan Negeri Tegal menuntu Nenek Meri dengan hukuman 5 bulan penjara dan 10 bulan masa percobaan. Setelah menjalani sidang lanjutan, pada akhirnya Nenek Meri hanya dijatuhi hukuman penjara selama 3 bulan dengan masa percobaan 6 bulan.
  2. Tentunya banyak orang yang mengetahui kasus Nenek Asyani yang diduga mencuri 7 batang katu jati milik Perum Perhutani. Menurut wanita tua dari Situbondo, Jawa Timur tersebut, kayu jati itu dulunya ditebang oleh almarhum suaminya dari lahan mereka sendiri yang kini telah dijual. Namun, pihak Perhutani tetap mengatakan bahwa kayu jati itu berasal dari lahan milik mereka dan bersikeras memperkarakan ulah Nenek Asyani itu. Dikarenakan hal ini, sejak bulan Juli – Desember 2014, Nenek Asyani mendekam di dalam penjara untuk menunggu proses persidangan. Pihak pengadilan memberikan ancaman maksimal 5 tahun  penjara.
  3. Tidak pernah terbersit sekalipun dalam pikiran seorang pria yang sudah lanjut usia bernama Busrin ini akan berhadapan dengan hukum dan mendapatkan hukuman selama 2 tahun penjara serta denda Rp 2 miliar atau subsider 1 bulan kurungan karena kedapatan menebang pohon mangrove untuk dibuatnya sebagai bahan bakar memasak. Busrin yang sehari-hari hanya sebagai kuli pasir ini ditangkap oleh polisi air Probolinggo karena perbuatannya dianggap melanggar hukum.

Masalah yang masih hangat terkait topic ini adalah masalah puisi Ibu Sukmawati yang hangat diperbincangkan. Puisi Sukmawati Soekarnoputri yang di dalamnya menyinggung tentang azan dan cadar menjadi kontroversi. Meski disebut sebagai opini, puisi berjudul ‘Ibu Indonesia’ itu tetap menuai polemik.

Puisi itu dibacakan Sukmawati dalam acara 29 Tahun Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week 2018. Sukmawati diberi kesempatan maju ke panggung dan membacakan Puisi ‘Ibu Indonesia’ karyanya sendiri.

Pengurus Persaudaraan Alumni 212, Kapitra Ampera mengkritik puisi Sukmawati. Menurut Kapitra yang juga merupakan pengacara Habib Rizieq ini, ada dugaan pelanggaran dalam puisi itu.

Masalah ini menuai kritik dan dibawa ke kursi pengadilan karena telah melanggar hukum KUHP yaitu Pasal 156 A KUHP dan atau Pasal 16 UU Nomor 40 tahun 2008 tentang penghapusan diskriminasi Ras dan Etnis. Tetapi hal ini tidak berlangsung lama dikarenakan Ibu Sukmawati meminta maaf secara umum di layar kaca kepada seluruh masyarakat Islam di Indonesia. Jika Indonesia merupakan Negara hukum. Mana hukum yang berlaku untuk ibu Sukmawati ini?

Menurut analisi saya, hukum di Indonesia susah ditegakkan jika mata dan hati para petinggi keadilan dipenuhi dengan uang. Tidak akan ada keadilan jika para penegak keadilan tidak mempunyai hati nurani. Seharusnya sebagai Negara hukum, Indonesia lebih tegas dalam menjalankan hukum-hukum yang berlaku. Bahkan Jokowi, presiden Negara Republik Indonesia mengakui adanya ketimpangan huku hukum di Indonesia. Karena huku di Indonesia menganut system “Siapa yang bayar, maka ia akan mudah keluar”

 

[1] https://www.boombastis.com/hukum-di-indonesia/58772

Keberagaman Merupakan Peluang dan Ancaman Bagi Bangsa Indonesia

Keberagaman adalah suatu kondisi dimana terdapat perbedaan yang bermacam-macam dalam kehidupan bermasyarakat. Keberagaman seperti pada suku, adat, bahasa, budaya, ras, gender, dan agama. Keberagaman di Indoesia sering dinilai sebagai kekayaan bahkan keindahan bangsa Indonesia. Indonesia terkenal akan berbagai jenis keberagaman tetapi keberagaman terkadang bisa menjadi ancaman bagi bangsa. Seperti apakah itu?

Keberagaman di Indonesia dapat dibentuk karena banyaknya suku bangsa yang tinggal di Indonesia dan tersebar di beberapa pulau-pulau kecil. Menurut penelitian Badan Statistik Pusat BPS pada tahun 2010, di Indonesia terdapat 1.128 suku bangsa. Wow, banyak bukan?

Keberagaman bisa menimbulkan peluang juga ancaman bagi bangsa Indonesia. Karena keberagaman yang ada di masyarakat, bisa menjadi tantangan bagi bangsa Indonesia. Hal itu disebabkan oleh keberagaman yang ada menciptakan keberagaman pendapat,munculnya sifat kedaerahan, meningkatnya individualisme antar suku yang berlebihan sehingga bisa merusak persatuan bangsa.

Keberagaman di Indonesia di sebabkan oleh beberapa factor, yaitu letak strategis wilayah Indonesia yang memungkinkan banyaknya pendatang yang bermigrasi dan menetap di Indonesia sehingga terjadinya perkawinan silang yang mnyebabkan suku sipendatang mulai berkembang, pengaruh budaya asing karena adanya kontak dan komunikasi dengan para pedagang asing yang memiliki corak budaya dan agama yang berbeda menyebabkan adanya akulturasi unsur kebudayaan, perbedaan kondisi alam, keadaan transportasi dan komunikasi, dan penerimaan masyarakat terhadap perubahan.

Sebelum membahas masalah keberagaman di Indonesia yang bisa menjadi peluang atau ancaman bagi bangsa Iindonesia, saya akan membahas berbagai macam perbedaan yang terdapat di Indonesia.

Yang pertama, keberagaman suku bangsa dan budaya di Indonesia yang merupakan keberagaman paling besar. Karena di Indonesia, selain kaya akan berbagai jenis flora dan fauna. Indonesia dikenal kaya akan berbagai jenis suku bangsa dan budaya. Suku bangsa adalah golongan manusia yang terikat oleh kesadaran dan identitas akan kesatuan kebudayaan. Orang-orang yang tergolong dalam satu suku bangsa tertentu, pastilah mempunyai kesadaran dan identitas diri terhadap kebudayaan suku bangsanya, misalnya dalam penggunaan bahasa daerah serta mencintai kesenian dan adat istiadat.

Suku-suku bangsa yang tersebar di Indonesia merupakan warisan sejarah bangsa, persebaran suku bangsa dipengaruhi oleh factor geografis, perdagangan laut, dan kedatangan para penjajah di Indonesia. Perbedan suku bangsa dengan suku bangsa lainnya disuatu daerah dapat dilihat dari ciri-ciri, yaitu tipe fisik (warna kulit, rambut, paras, dan lain- lain), bahasa yang dipergunakan sehari-hari (bahasa batak, bahasa minang, bahasa melayu, bahasa bugis, dan lain sebagainya), adat istiadat (adat perkawinan, pakaian adat, upacara kematian), kesenian daerah (tari janger, tari cakalele, music daerah dan lagu daerah), dan lain sebagainya yang masih banyak lagi.

Hingga saat ini, Indonesia masih merupakan Negara dengan suku bangsa terbanyak didunia. Setiap suku bangsa hidup dalam kelompok masyarakat yang mempunyai kebudayaan berbeda-beda satu sama lainnya.

 

Contoh persebaran suku di Indonesia adalah sebagai berikut :[1]

  1. Nanggroe Aceh Darussalam : suku Aceh, suku Alas, suku Gayo, suku Kluet, suku Simelu, suku Singkil, suku Tamiang, suku Ulu .
  2. Sumatera Utara : suku Karo, suku Nias, suku Simalungun, suku Mandailing, suku Dairi, suku Toba, suku Melayu, suku PakPak, suku maya-maya
  3. Sumatera Barat : suku Minangkabau, suku Mentawai, suku Melayu, suku guci, suku jambak
  4. Riau : Melayu, Siak, Rokan, Kampar, Kuantum Akit, Talang Manuk, Bonai, Sakai, Anak Dalam, Hutan, Laut .
  5. Kepulauan Riau : Melayu, laut
  6. Bangka Belitung : Melayu
  7. Jambi : Batin, Kerinci, Penghulu, Pewdah, Melayu, Kubu, Bajau .
  8. Sumatera Selatan : Palembang, Melayu, Ogan, Pasemah, Komering, Ranau Kisam, Kubu, Rawas, Rejang, Lematang, Koto, Agam
  9. Sulawesi Selatan : Bugis, Makasar, Toraja, Mandar
  10. Papua Timur : Sentani, Asmat, Dani, Senggi
  11. I.Yogyakarta : Jawa
  12. Jawa Timur : Jawa, Madura, Tengger, Asing
  13. Bali : Bali, Jawa, Madura
  14. NTB : Bali, Sasak, Bima, Sumbawa, Mbojo, Dompu, Tarlawi, Lombok
  15. NTT : Alor, Solor, Rote, Sawu, Sumba, Flores, Belu, Bima
  16. Kalimantan Barat : Melayu, Dayak (Iban Embaluh, Punan, Kayan, Kantuk, Embaloh, Bugan,Bukat), Manyuke
  17. Kalimantan Tengah : Melayu, Dayak (Medang, Basap, Tunjung, Bahau, Kenyah, Penihing, Benuaq), Banjar, Kutai, Ngaju, Lawangan, Maayan, Murut, Kapuas
  18. Kalimantan Timur : Melayu, Dayak(Bukupai, Lawangan, Dusun, Ngaju, Maayan)
  19. Kalimantan Selatan : Melayu, Banjar, Dayak, Aba
  20. DKI Jakarta : Betawi

 

Yang kedua, keberagaman agama di Indonesia merupakan keberagaman terbesar kedua setelah suku bangsa dan budaya. Agama adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan antar manusia dan lingkungannya

Enam agama besar yang paling banyak dianut di Indonesia, yaitu: agama Islam, Kristen (Protestan) dan Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Sebelumnya, pemerintah Indonesia pernah melarang pemeluk Konghucu melaksanakan agamanya secara terbuka. Namun, melalui Keppress No. 6/2000, Presiden Abdurrahman Wahid mencabut larangan tersebut.  Ada juga penganut agama Yahudi, Saintologi, Raelianisme dan lain-lainnya, meskipun jumlahnya termasuk sedikit.

Menurut Penetapan Presiden (Penpres) No.1/PNPS/1965 junto Undang-undang No.5/1969 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan Penodaan agama dalam penjelasannya pasal demi pasal dijelaskan bahwa Agama-agama yang dianut oleh sebagian besar penduduk Indonesia adalah: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Meskipun demikian bukan berarti agama-agama dan kepercayaan lain tidak boleh tumbuh dan berkembang di Indonesia. Bahkan pemerintah berkewajiban mendorong dan membantu perkembangan agama-agama tersebut.

Sebenarnya tidak ada istilah agama yang diakui dan tidak diakui atau agama resmi dan tidak resmi di Indonesia, kesalahan persepsi ini terjadi karena adanya SK (Surat Keputusan) Menteri dalam negeri pada tahun 1974 tentang pengisian kolom agama pada KTP yang hanya menyatakan kelima agama tersebut. Tetapi SK (Surat Keputusan) tersebut telah dianulir pada masa Presiden Abdurrahman Wahid karena dianggap bertentangan dengan Pasal 29 Undang-undang Dasar 1945 tentang Kebebasan beragama dan Hak Asasi Manusia.[2]

Masalah yang terkait dengan keberagaman di Indonesia adalah perpecahan. Hal ini sangat mengancam NKRI. Di Indonesia sering terjadi pertikaian antar suku yang masih merajalela hingga detik ini. Rasis ras yang sangat tinggi. Salah satu contoh nya adalah konflik kali ini terjadi di Kalimantan Tengah. Hal ini dimulai ketika banyak orang Madura pindah ke Kalimantan di mana mereka memiliki watak yang sangat keras. Sejak saat itu, banyak terjadi konflik. Di mulai dari tahun 1972 dan memuncak pada 2001 di mana anggota Suku Dayak diserang secara tiba- tiba oleh 2 orang Madura.

Konflik ini pun meluas hingga seluruh Kalimantan. Banyak kerugian yang ditimbulkan dari Perang Sampit. Sekiar 500 orang suku meninggal karena konflik ini. Di akhir sejarah sampit, sekitar 100.000 orang Madura kehilangan harta benda dan harus kembali ke Pulau Madura sedangkan Suku Dayak bisa mempertahankan wilayahnya.

Selain suku, di Indonesia masih sering terjadi perpecahan terkait perbedaan agama. Salah satu contoh kasusnya adalah Persekutuan Gereja-gereja di Kabupaten Jayapura (PGGJ) menuntut pembongkaran menara Masjid Al-Aqsha Sentani. Alasannya, lebih tinggi dari bangunan gereja yang sudah banyak berdiri di daerah itu. Hal ini pun menuai respons dari sejumlah pihak. Diinformasikan bahwa PGGJ menuntut  agar pembangunan menara Masjid Al-Aqsha Sentani dihentikan dan dibongkar. PGGJ meminta agar tinggi gedung masjid tersebut diturunkan sehingga sejajar dengan tinggi bangunan gedung gereja yang ada di sekitarnya. PGGJ beralasan menara Masjid Al-Aqsha saat ini lebih tinggi dari bangunan gereja yang sudah banyak berdiri di Sentani.

Ketua Umum PGGJ, Pendeta Robbi Depondoye meminta agar pembongkaran dilakukan selambatnya 31 Maret 2018, atau 14 hari sejak tuntutan resmi diumumkan hari ini. PGGJ juga sudah menyurati unsur pemerintah setempat untuk pertama-tama menyelesaikan masalah sesuai aturan serta cara-cara persuasif.

Ketua Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS) Universitas Gajah Mada (UGM) Zainal Abidin Bagir mengatakan, konflik, penodaan agama, dan rumah ibadah di Indonesia, sampai saat ini menunjukkan tren meningkat.

Menurut analisis saya sendiri keberagaman di Indonesia lebih banyak menuai konflik dan ancaman dibandingkan dengan peluang. Karena hal tersebut tergantung dari apa reaksi masyarakat Indonesia sendiri. Di Indonesia agama dan suku adalah dua hal yang tabu, jika salah satu hal tersebut diusik maka muncul lah perang dan pertikaian. Hal ini tidak sesuai dengan Pancasila pasal ke 4, yang berbunyi kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Padahal jika terjadi konflik akan lebih baik dibandingkan dengan perang dan pertikaian

Berbeda dengan keberagaman kesenian, flora, fauna, dan adat yang lebih banyak menuai peluang dibanding konflik. Sebagai contoh flora dan fauna di Indonesia sering menjadi sorortan Negara luar, kesenian daerah yang beraneka ragam juga sering menjadi sorotan Negara asing sehingga banyak turis yang berkunjung ke Indonesia. Tetapi konflik ini juga bisa terjadi karena masyarakat Indonesia yang di nilai kurang menjaga kebudayaan, sehingga kebudayaan Indonesia sering dicuri oleh Negara tetangga.

Hal ini seharusnya pemerintah dengan tegas membuat perundangan tentang pencurian budaya Indoneisa yang akan diberikan sangsi berat dan masyarakat yang seharusnya lebih mencintai kebudayaan daerahnya sehingga tidak ada lagi pencurian budaya Indonesia oleh Negara asing.

 

[1] http://nachabu.ilmci.com/6410/08/keragaman-suku-bangsa-dan-budaya-di-indonesia.aspx

[2] http://nachabu.ilmci.com/6410/08/keragaman-suku-bangsa-dan-budaya-di-indonesia.aspx

Permasalahan Bangsa Saat Ini Serta Upaya Mengatasi Permasalahan

Sebelum mengangkat topic “Permasalahan Bangsa Saat Ini”, saya akan membahas sedikit tentang bagaimana keadaan Indonesia pada zaman dahulu hingga sekarang.

Indonesia adalah Negara yang letaknya sangat strategis. Karena dilintasi oleh garis khatulistiwa dan berada diantara Benua India dan Benua Australia serta berada diantara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Tingkat populasi kependudukan di Indonesia berkembang dengan pesat sehingga pada tahun 2006 Indonesia merupakan Negara berpenduduk terbesar tingkat ke-4 di dunia.

Indonesia merupakan Negara yang kaya, selain kaya akan keanekaragaman hayati dan fauna, wilayah Indonesia juga di hiasi oleh berbagai suku, bahasa, adat, budaya, dan agama. Suku etnis terbesar dan secara politisi paling dominan adalah suku Jawa. Sumber hukum tertinggi bangsa Indonesia adalah Undang-Undang Dasar 1945, sedangkan Pancasila adalah sumber dari segala sumber hukum yang merupakan pedoman kehidupan berbangsa bagi bangsa Indonesia. Indonesia memiliki semboyan nasional yang berbunyi “Bhineka Tunggal Ika” yang artinya adalah berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Maksudnya adalah keberagaman suku, budaya, bahasa, adat, dan agama adahal bukan hal  yang membuat Indonesia akan hancur dan berbeda tetapi menciptakan persatuan dan kesatuan karena prinsip Indonesia adalah “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”

Wilayah Indonesia hingga saat ini masih berbatasan dengan Negara tetangga, seperti sebagian wilayah di pulau Kalimantan berbatasan dengan Malaysia, sebagian wilayah di pulau Papua berbatasan dengan Papua Nugini, dan sebagian wilayah di pulau Timor berbatasan dengan Timur Leste. Negara tetangga lainnya adalah Singapura, Filipina, Australia, dan lain-lain.

Karena Indonesia merupakan Negara yang hasil alamnya melimpah, maka pada tahun 1602 Belanda mulai memasuki dan menguasai Hindia-Belanda (Indonesia tempo dulu). Belanda secara perlahan menguasai jalur perdagangan yang disebut VOC, karena mereka mendapat izin untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah di Indonesia dan melakukan berbagai kegiatan colonial yang dikuasai parlemen Belanda. Tetapi para penjajah ini tidak segan-segan menggunakan kekerasan terhadap rakyat Indonesia karena ingin mempertahankan monopoli perdagangan rempah-remah Nusantara.

Kemudian pada tahun 1942 Jepang menawarkan tawaran untuk menaklukkan kawasan revolusi dari penjajahan Belanda. Soekarno menyetujui tawaran Jepang dan Belandapun terusir. Tetapi Jepang memanfaatkan hal ini untuk menjajah Indonesia kembali dan Indonesia kembali di jajah oleh Jepang. Jepang melakukan segala jenis kekejaman, mulai dari siksaan, perbudakaan seks, kerja paksa, hukuman mati, dan kejahatan lainnya. Tetapi hal ini tidak berlangsung lama, karena tahun 1945 dua kota terbesar di Jepang yaitu Nagasaki dan Hiroshima dihancurkan oleh tentara sekutu. Hal ini tercatat dalam sejarah karena merupakan pengeboman terbesar di dunia.

Sehingga pada tanggal 17 Agustus, Soearno memproklamasikan kemerdekaan dan pada tanggal 18 Agutus 1945 Soekarno dan Mohammd Hatta dilantik menjadi Presiden dan Wapres pertama Indonesia. Kemudian setelah Soekarno-Hatta dilengser, Indonesia di pimpin oleh Soeharto yan dikabarkan ikut memberantas gerakan PKI.

Setelah Indonesia menyatakan kemerdekaan di akhir perang dunia II, keadaan Indonesia belum kembali stabil karena pada tahun 1998 Indonesia mengalami masalah krisis moneter yang mana keadaan mata uang rupiah menurun dan harga kebutuhan meningkat drastis, bencana alam, korupsi, separatism, proses demokratisasi dan periode perubahan ekonomi yang pesat. Keadaan ini membuat semua kalangan masyarakat marah sehingga para mahasiswa melakukan aksi demo secara besar-besaran

Beralih ke presiden berikutnya, yaitu B.J.Habibie. Pada masa pemerintahannya Provinsi Timor-Timur melepas diri dari Indonesia untuk menjadi Negara yang berdiri sendiri. Kemudian pada tahun 2004 diadakan pemilu terbesar dan SBY dipilih sebagai Presiden. Pada masa pemerintahan SBY, konflik dengan GAM yang berlangsung selama 30 tahun akhirnya dapat diberhentikan. Bahkan utang Negara sudah dinyatakan lunas.

Setelah SBY memerintah Indonesia selama 10 tahun, Presiden selanjutnya yang memimpin Indonesia adalah Jokowi Dodo yang berlangsung hingga sekarang dengan misi menjadikan Indoensia sebagai pusat poros maritime dunia

Untuk topic kali ini, saya ingin mengangkat permasalahan Maritim di Indonesia sesuai dengan misi Presiden Jokowi Dodo. Indonesia dikenal sebagai Negara maritime karena Indonesia merupakan Negara kepulauan yang kaya akan sumber daya lautnya. Terbukti pada zaman colonial, Belanda menggunakan jalur perdagangan laut untuk menjual rempah-rempah sebagaimana di jelaskan pada awal sejarah bangsa Indonesia.

Sebagai Negara kepulauan terbesar tentunya Indoesia menjadi peluang untuk menjadi Negara yang di Visi Misi kan pemerintah Jokowi, yaitu menjadi poros maritime dunia. Karena dipercaya dapat memperkuat jati diri Negara Indonesia dan meningkatkan kualitas perekonomian Negara serta pertahanan maritime Indonesia.

Tetapi, untuk menjadi poros maritime dunia, system pelabuhan harus dimodernisasikan sehingga pelayanan dan akses di seluruh pelabuhan harus mengikuti prosedur nasional, tingkat keamanan di laut sudah terjamin aman dan tidak bisa diakses sembarangan oleh pihak asing, kesejahteraan kehidupan kelautan terjaga dan kondisi kelautan yang bersih. Hal tersebutlah yang menjadi masalah dan mebuat Indonesia belum menjadi Negara yang diharapkan oleh Presiden Jokowi Dodo.

Menurut Ketua Dewan Pembina Kesatuan Nelayan Tradisional (KNTI), Riza Damanik, Ia menemukan ada tiga persoalan mendasar dalam dunia maritime Indonesia, yaitu ketimpangan agria keluatan, kerentanan pencurian ikan, dan ketimpangan infrastruktur. Ia menjelaskan jalan keluar yang bisa diambil oleh pemerintahan adalah dengan melakukan moratorium untuk penangkapan 12 mil laut, mendorong perkembangan system-sistem cuaca dan lokasi ikan ke kampung pesisir untuk para nelayan

Sedangkan menurut Jamaluddin Jompa, Dekan FIKP Universitas Hassanuddin menilai Presiden Jokowi akan mampu memaksimalkan potensi sumber daya maritime Indonesia dengan catatan pemerintah harus tegas membuat kebijakan sesuai dengan permasalahan yang dihadapi sector maritime serta pemerintah harus menyadari akan adanya sejumlah hambatan dalam mengeksploitasi seluruh potensi maritime Indonesia engan meningkatkan SDM Masyarakat maritime di Indonesia.

Menurut pendapat saya, dari awal Indonesia belum merdeka hingga detik ini. Permasalahannya masih tetap sama, yaitu kesejahteraan SDM yang masih belum meningkat dan kebijakan pemerintah yang belum tegas akan peraturan dan hukuman bagi pihak yang melanggar. Sebagai contoh, perairan Kepulaun Riau masih sering dimasuki illegal oleh pihak asing yang mana mereka mengambil keuntungan dengan mencuri ikan-ikan di laut Indonesia, jika hal ini tidak ditindaklanjuti tegas oleh pemerintah, maka Indonesia bisa saja akan kembali dijajah.

Karena hal ini menghambat Visi Presiden Jokowi, maka yang harus dilakukan pertama adalah dengan meningkatkan SDM masyarakat Indonesia dengan menyadarkan bahwa betapa pentingnya kemaritiman di Indonesia dimulai dari hal paling mendasar yaitu dengan tidak mengotori dan mencemari lingkungan laut. Bukti kesadaran masyarakat tentang dunia kemaritiman masih kurang yaitu masih adanya banjir besar di daerah Jakarta yang sampai saat ini masih belum diatasi. Wajar saja jika program presiden belum bisa dijalani dan menjadi masalah yang masih berkembang hingga saat ini. Bukan hanya pemerintah saja yang wajib menjaga kebersihan laut tetapi kita semua juga harus turut serta menjaga agar program pemerintah bisa dijalani.

Dan juga seharusnya pemerintah dengan tegas memberi hukuman bagi siapa saja yang merusak lingkungan. Membuat peraturan perundang-undangan yang jelas hukumannya dan jelas pelaksanaan hukumannya. Hanya dua factor ini yang menghambar permasalahan maritime di Indonesia menurut analisis saya. Dan dua factor inilah yang belum menemukan titik solusinya sehingga permasalahan kemaritiman di Indonesia masih terjadi dan belum tersolusikan.

Surat untuk Samudera

Dear samudera yang selalu kudatangi karena alasan sedihku, aku ingin bercerita tentang seorang tuan yang berada jauh beribu kilometer. Tentang tuan yang selalu bertahan pada kondisi tak tertahan. Tentang tuan yang manis dengan lesung pipi sebelah kanan ditambah kumis tipis. Tentang tuan yang tak bisa kumiliki, sebab tuan ini telah berikat cincin janji suci.

Dear samudera objek menenangkan terbaik sepanjang masa versi ku, tuan ini telah banyak merubahku dari buruk menjadi sangat baik. Tanpa dia sadari, kami sudah melewati berbagai rasa dalam asa. Tuan ini juga yang selalu memberi ku semangat dalam keadaan sekarat. Tetapi aku sepi, karena tuan ini tidak akan pernah bisa aku miliki.

Dear samudera yang mulai menggelap karena senjamu hilang, aku harus bagaimana terhadap tuan ini? Haruskah aku semakin mengoyak hati ku dengan cara pergi? Atau aku bertahan dalam luka menganga terurung lalat? Sungguh aku sedang penat. Bahkan aku hampir sekarat. Jiwa ku meronta karena tak larat. Tolong aku samudera. Tolong aku Semesta. Aku yang tak tahu diri terhadap malaikat kecil nya. Ingin kurampas dia. Sungguh aku hina

Dear samudera yang deburan ombakmu menyetarai debaran hatiku, benarkah aku sedang jatuh cinta? Kenapa aku semakin jatuh ketika dia tersenyum bahkan terluka. Yang aku ingin hanya dirinya bahagia tanpa sedikit rasa gundah. Yang aku ingin dia disini bersama ku. Ingin kuperkenalkan dia kepadamu. Ntah sebagai siapa aku juga tidak pernah tahu.

Dear semesta jingga yang selalu bersama samudera, bisakah aku minta agar ini semua ternyata hanya mimpi terburuk ku? Sungguh aku menyayangi dirinya. Apapun keadaannya. Apapun perilakunya. Apapun yang sedang dihadapinya. Aku menyukai caranya berbagi pendapat dengan ku. Aku menyukai caranya bercerita tentang apa saja. Aku menyukai cara pandangan hidup yang selalu dia ceritakan.

 

Aku mencintainya😊
kemudian…..
Bisakah aku melepasnya?

Ulasan Buku Akuntansi Penggabungan Usaha

                                                                                                    Nama  : Fini Yesti Desiyana Agnesi

                                                                                                                    NIM  : 170462201073

Akuntansi_Penggabungan_Usaha_Edisi_2_____Marisi_P_Purba_____.jpg

Judul                           : Akuntansi Penggabungan Usaha

Penulis                         : Marisi P. Purba

Penerbit                       : Graha Ilmu

Tahun                          : 2008

Tebal                           : 124 halaman + 5 prakarta dan daftar isi

Bahasa                         : Indonesia

Sampul                        : Latar putih dengan gambar uang coin

ISBN                           : 978-979-756-410-0

 

Buku ini ditulis oleh Marisi P. Purba seorang penulis yang lahir tanggal 21 Agustus 1975 di Pematang Siantar. Menyelesaikan studi di Universitas Sumatera Utara Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi pada tahun 1998. Beliau pernah bekerja sebagai Audit Technical Assistant di Kantor Akuntan Publik Prasetio Utomo & Co., Arthur Andersen pada tahun 1998 hingga 1999. Sejak akhir tahun 2006 hingga saat ini, beliau aktif bekerja di PT Telekomunikasi Indonesia Tbk.Minat yang tinggi dalam ilmu akuntansi mendorong beliau untuk aktif berpartisipasi sebagai pembicara pada seminar-seminar akuntansi tingkat nasional dan menulis pada berbagai media massa

Buku ini menjelaskan tentang transaksi penggabungan usaha dengan beberapa metode yang mengharuskan identifikasi perusahaan pengakuisisian dan perusahaan yang diakuisisi dalam setiap transaksi penggabungan usaha.

Buku ini juga memaparkan betapa pentingnya kesiapan undang-undang perpajakan, undang-undang perseroan terbatas dan ketentuan pelaksaan lainnya dalam mengantisipasi adopsi penuh IFRS 3. Sebab malasah perpajakan dan hukum kerap sekali mengalami persinggungan dengan standar akuntansi keuangan yang ditetapkan.

Dalam buku ini dijelaskan tren konvergensi standar akuntansi keuangan sedang berlangsung secara global. Konvergensi terhadap IAS dan IFRS yang akan dilakukan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan-Ikatan Akuntan Indonesia sudah di depan mata. Adopsi penuh atas IAS dan IFRS di Indonesia tentunya akan menyita banyak perhatian para praktisi bisnis, akademisi dan regulator.

Buku ini mencoba memberikan wawasan dan pemahaman terhadap penerapan IFRS 3, bagi para pembacanya dengan uraian yang singkat dan padat. Kajian perbandingan antara IFRS 3 dan FAS 141R (Amerika Serikat) yang ada pada buku ini akan banyak memberikan masukan bagi para praktisi akuntansi yang bekerja pada perusahaan multi-nasional.

Dalam buku ini penulis memberi tahu penerapan metode pembelian sebagai metode tunggal bukanlah tanpa kritik dan keberatan karena Indonesia sendiri belum melakukan adopsi atas IFRS 3. Dan penulis juga membahas hal-hal yang terkaitdengan akuntansi penggabungan masalah yang diharapkan bisa membantu para akuntan yang ingin mengembangkan ilmunya di bagian akuntansi keuangan.

Banyak keunggulan yang terdapat dalam buku ini salah satunya menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh pembaca dan semua diuraikan secara terperinci dan jelas sehingga buku ini dapat membantu pembaca mendapatkan informasi mengenai akuntansi penggabungan usaha.

Selain keunggulan, buku ini juga memiliki kekuangan yaitu buku ini banyak menggunakan istilah asing terkadang membuat pembaca awam maupun seorang pemula akuntansi kesulitan memahami isi dari buku tersebut

Buku ini sangat cocok dan dianjurkan untuk dijadikan buku pembelajaran baik mahasiswa maupun masyarakat umum karena didalamnya terdapat pengetahuan yang ilmunya sangat banyak. Juga bisa menjadi referensi mahasiswa jurusan Akuntansi yang ingin memperdalam ilmunya mengenai akuntansi penggabungan usaha. Buku ini juga dapat membantu para akademisi dan praktisi akuntansi yang ingin mengikuti perkembangan ilmu akuntansi keuangan.